“Manusia itu diberi pilihan dan dimudahkan.”
Al-lajnah Ad-Daai’mah dalam fatwa no. 4513 tertanggal 4/11/1401H, berkata:
“Manusia itu diberi pilihan dan dimudahkan.”
- Adapun keadaan manusia diberi pilihan, karena ALLAH Ta’ala telah memberinya akal, pendengaran, penglihatan dan kehendak yang dengannya ia akan mengetahui yang baik dari yang jelek dan yang bermanfaat dari yang bermudharat. Manusia akan memilih yang sesuai baginya. Sehingga dengan itu pula terkait beban syariat berupa perintah dan larangan. Dia berhak mendapat balasan (pahala-pen) karena menta’ati ALLAH dan Rasul-Nya dan berhak disiksa karena bermaksiat kepada ALLAH dan Rasul-Nya.
- Adapun keadaan manusia dimudahkan, karena dia tidaklah keluar dari takdir ALLAH dan kehendaknya, baik dalam perbuatan-perbuatan maupun ucapan-ucapannya. Sebagaimana firman ALLAH Ta’ala : 1.“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” [Al-Qur’an Surat Al- Hadiid ayat : 22]
2. “(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” [Al-Qur’an Surat At-Takwiir ayat : 28 - 29]
3. “Dialah Tuhan yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan.” [Al-Qur’an Surat Yunus ayat : 22 ]
– Sekian Ucapan Lajnah Ad-Daa’imah–
Syaikh Utsaimin Rahimahullahu Ta’la berkata, adapun beriman kepada takdir ALLAH Ta’ala itu meliputi 4 perkara, diantaranya :
Pertama, Beriman bahwa ALLAH mengetahui segala sesuatu baik secara global maupun terperinci sejak zaman azali dan bersifat abadi baik yang berkaitan dengan perbuatan-Nya sendiri maupun perbuatan hamba-hamba-Nya.
Kedua, Beriman bahwa ALLAH menulis semua takdir-Nya di kitab Lauhul Mahfuzh. Dalam kedua perkara ini, ALLAH Ta’ala berfirman :
1.“yang mengetahui semua yang ghaib dan semua yang nampak, Maka Maha Tinggilah Dia dari apa yang mereka persekutukan. [Al-Qur’an Surat Al-Hajj ayat : 170]
2. Dalam shahih Muslim, dari shahabat ‘Abdullah bin ‘amr bin Al-‘Ash, ia berkata : “ Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda: “ ALLAh Ta’ala telah mencatat takdir seluruh makhluk sebelum Dia menciptakan langit dan bumi selang waktu 50.000 tahun yang lalu.”[Imam Muslim, Kitabul Qadar, Bab : “Dzikru Hujaji Adam wa Musa ‘Alaihimas sallam]
Ketiga, Beriman bahwa segala sesuatu yang ada di alam semesta ini tidak akan ada (terjadi) kecuali dengan kehendak ALLAH Ta’ala baik yang berkaitan dengan perbuatan ALLAH sendiri maupun makhluknya.
Firman ALLAH yang berkaitan dengan perbuatan-Nya sendiri :
1.“Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia).” [ Al-Qur’an Surat Al-Qashash ayat : 68]
2.”Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan Ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” [Al-Qur’an surat Ibrahim ayat :27]
Firman ALLAH yang berkaitan dengan perbuatan hamba-hamba-Nya :
1. “Kecuali orang-orang yang meminta perlindungan kepada sesuatu kaum, yang antara kamu dan kaum itu telah ada Perjanjian (damai) atau orang-orang yang datang kepada kamu sedang hati mereka merasa keberatan untuk memerangi kamu dan memerangi kaumnya kalau Allah menghendaki, tentu Dia memberi kekuasaan kepada mereka terhadap kamu, lalu pastilah mereka memerangimu. tetapi jika mereka membiarkan kamu, dan tidak memerangi kamu serta mengemukakan perdamaian kepadamu Maka Allah tidak memberi jalan bagimu (untuk menawan dan membunuh) mereka.” [Al-Qur’an surat An-Nisaa ayat : 90]
2. “dan Demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, Yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, Maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan. “ [Al-Qur’an surat Al-An’am ayat : 112].
Keempat, Beriman bahwa segala sesuatu yang ada di alam semesta ini adalah makhluk ALLAH beserta dzat, sifat dan gerak-geriknya. ALLAH Ta’ala berfirman :
1. “Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu.” [Al-Qur’an surat Az-Zumar : 62]
2. “ yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu baginya dalam kekuasaan(Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.”[ Al-Qur’an surat Al-Furqon : 2]
3.”Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu”. [Al-Qur’an surat Ash-Shafat : 96]
Namun, beriman kepada takdir ALLAH tidaklah menafikan/menghilangkan adanya Masyi’ah (kehendak) bagi seorang hamba dalam melakukan perbuatan yang ia lakukan dengan pilihan dan kemampuannya. Karena dalil syar’i dan fakta membuktikan bahwa setiap hamba memiliki kehendak.
Dalil syar’i tentang adanya Masyi’ah (kehendak) bagi hamba .
ALLAH Ta’ala berfirman :
1.” Maka Barangsiapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya..”[ Al-Qur’an surat An-Naba : 39]
2. “isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, Maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman. “ [Al-Qur’an surat Al-Baqarah : 223]
ALLAH Ta’ala juga berfirman bahwa manusia diberi kemampuan untuk melakukan sesuatu :
1.”Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. “ [ At-Taghabun : 16]
2. “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.” [Al-Qur’an surat Al-Baqarah : 286]
Adapun berdasarkan fakta, bahwa setiap insan mengetahui bahwa dirinya memiliki kehendak & kemampuan untuk mengerjakan atau meninggalkan sesuatu. Mampu membedakan antara perbuatan yang terjadi dengan kehendaknya (seperti : berjalan, dll) dan perbuatan yang terjadi bukan dengan kehendaknya sendiri (seperti : gemetar, dll). Akan tetapi Masyi’ah (kehendak) & Qudrah (kemampuan) yang dimiliki seorang hamba terjadi atas kehendak dan kekuasaan ALLAH Ta’ala, sebagaimana firman-Nya :
“(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” [Al-Qur’an Surat At-Takwiir ayat : 28 - 29]
Semua yang ada di alam semesta ini adalah milik ALLAH Ta’ala maka tidak akan terjadi di dalam kerajaan-Nya sesuatu di luar pengetahuan & kehendak-Nya. Beriman kepada takdir ALLAH Ta’ala sebagaimana yang telah kami kemukakan tidak bisa dijadikan alasan bagi seseorang untuk meninggalkan kewajiban atau melakukan kemaksiatan.
Dalam hadits shahih, ketika Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasallam ditanya : “ Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang kerja keras manusia pada hari ini ?, apakah dia merupakan perkara yang telah ditetapkan bagi mereka dahulu ataukah termasuk perkara belakangan yang hujjah akan menuntut mereka ?”, Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasallam menjawab, “Bahkan ia adalah perkara yang telah ditetapkan atas mereka dahulu.” Lalu para shahabat berkata : “Ya, Rasulullah bolehkah kami meninggalkan beramal dan berserah diri pada ketentuan kami?”, Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasallam menjawab, “Tidak, beramal-lah, karena semuanya dimudahkan untuk mencapai apa yang dia diciptakan untuknya.”[Hadits Shahih Riwayat Muslim 4/2041-2042 dari shahabat ‘Imran bin Hushain].
–Allahu a’lam bish-shawab–
Maraji’ (Daftar Pustaka) :
-Syarah Tsalatsatil Ushul, Karya Asy-Syaikh Shalih Al-‘Utsaimin dan Asy-Syaikh ‘Abdul Aziz bin Baaz. Penerjemah : Abu Hudzaifah. Maktabah Al-Ghuraba, Sanggrahan. Cet.Ke-2, Desember 2006.
-Al-Qoulul Mufid Penjelasan Tentang Tauhid. Karya: Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahab Al- Wushobi. Penerjemah: Ummu Luqman Salman bintu Ngadino As- Salafiyyah. Darul ‘Ilmi, Sleman. Cet. Ke-1, Agustus 2005.
- Ringkasan Minhajus Sunnah Ibnu Taimiyyah. Karya Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan. Penerjemah : Fuad, Lc. Pustaka Ar-Rayyan,Solo. Cet. Ke-1, Januari 2007.