Hindari Anemia Jadikan Anak Lebih Berprestasi

Apakah anak Anda tampak cepat lelah dan mudah mengantuk? Bila ya, maka tak ada salahnya segera periksakan dia ke dokter. Jangan-jangan anak Anda telah menderita anemia atau yang oleh masyarakat umum biasa disebut penyakit kurang darah. Sebab, anemia pada anak bisa berdampak pada konsentrasi dan daya tangkapnya yang menurun. Akibatnya, sudah tentu akan berpengaruh pula pada prestasi belajar si anak.

Kewaspadaan kita terhadap anemia pada anak bukan tanpa alasan. Data menunjukkan bahwa penderita anemia di kalangan anak-anak tergolong tinggi. Berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga tahun 2004, jumlah penderita anemia pada anak usia 5-11 tahun mencapai 24 persen. Angka ini cukup menurun drastis bila dibandingkan hasil survei yang sama pada tahun 2001 yakni 47 persen anak-anak usia balita menderita anemia. Kita yang memiliki perhatian terhadap anak tentunya tak ingin anak-anak kita menderita anemia. Apalagi penyakit tersebut dapat menggerogoti tingkat kecerdasan dan kemampuan belajar anak kita. Maka tak ada salahnya kita mengetahui penyakit ini sejak dini.

Kenali anemia
Anemia dikenal juga dengan sebutan penyakit kurang darah. Hal ini dapat dipahami karena penyakit ini bermula dari kadar hemoglobin (Hb) dan sel darah merah (eritrosit) yang berada di bawah batas normal. Hemoglobin merupakan pigmen protein yang memberikan warna pada darah kita. Darah dikatakan mengandung oksigen bila berwarna merah, sedangkan berwarna biru bila sebaliknya. Tugas hemoglobin tentu saja amat vital bagi tubuh kita. Dialah yang membawa oksigen ke paru-paru yang selanjutnya didistribusikan ke seluruh jaringan dan organ tubuh manusia untuk melakukan pembakaran yang menghasilkan energi.

Seseorang dapat dikatakan menderita anemia bila kadar Hb-nya di bawah 13 gr % bagi pria dewasa, di bawah 12 bagi perempuan dewasa, dan kurang dari 11 bagi anak-anak usia 11 tahun sampai masa pubertas. Apabila Hb di bawah normal, maka distribusi oksigen oksigen juga tidak normal. Akibatnya, fungsi tubuh juga terganggu. Misalnya pada otot, baru melakukan aktivitas sebentar saja badan sudah terasa lelah.

Sebagaimana dikenal awam sebagai penyakit kurang darah, anemia umumnya disebabkan oleh kekurangan darah yang dialami seseorang. Kondisi ini bisa terjadi misalnya karena menstruasi, selain bisa juga terjadi karena cacingan pada anak-anak. Anemia dapat juga terjadi karena gizi yang buruk. Pada akhirnya seseorang mengalami kekurangan asupan zat besi yang diperlukan tubuhnya (lihat tabel). Jangan cepat beranggapan bahwa penyebab kurangnya zat besi ini hanya terjadi pada anak-anak lapisan masyarakat ekonomi bawah. Kurangnya pasokan zat besi bisa terjadi pada semua anak usia sekolah dari segala lapisan ekonomi. Namun memang, keadaan ini umumnya banyak dialami oleh anak perempuan yang telah mengalami menstruasi. Darah yang keluar dari tubuh bisa menyebabkan berkurangnya zat besi dalam tubuh., apalagi remaja putri biasanya sudah mulai pilih-pilih makanan sehingga bisa mengakibatkan indeks zat besinya terganggu.

Prestasi belajar terganggu
Seperti telah disebutkan, kadar Hb seseorang amat berpengaruh bagi terdistribusikannya oksigen ke seluruh tubuh. Hal ini terkait pula dengan zat besi yang dikandung dalam tubuh kita. zat besi berfungsi sebagai pigmen pengangkut oksigen dalam darah. Sedangkan oksigen sendiri diperlukan tubuh untuk proses pembakaran yang menghasilkan energi.

Kurangnya kadar oksigen dalam darah dapat menyebabkan terganggunya fungsi-fungsi sel di seluruh tubuh termasuk otak. Dalam kondisi seperti itu seseorang jadi tidak produktif. Otomatis juga kemampuan berpikirnya jadi menurun, kondisi fisiknya juga menurun.Jikalau ini terjadi belasan tahun sejak anak berada di usia balita hingga masa sekolah, maka kualitas berpikirnya juga menjadi berkurang. Dan kalau kita bicara anak-anak sekolah maka prestasinya bisa menjadi di bawah rata-rata. Pada anak-anak, kondisi seperti itu dapat menyebabkan prestasi belajarnya terganggu karena pembentukan otak sejak kecil terhambat.

Dengan kata lain, penyakit anemia pada anak-anak sangat terkait dengan kemampuannya dalam berpikir. Lalu, apa yang harus dilakukan agar anak-anak kita terhindar dari penyakit anemia sehingga kemampuan belajarnya pun maksimal? Tentunya yang pertama-tama harus dilakukan adalah menghindari sekaligus mengatasi faktor-faktor yang menjadi penyebab penyakit ini.

Tindakan
Untuk menghindari anak-anak kita terjangkit penyakit caicingan, misalnya, maka pola hidup bersih dan sehat harus kita ajarkan pada anak-anak. Hal ini dapat dilakukan dengan mudah dan tidak mahal. Ajarilah anak-anak untuk mencuci tangan sebelum makan, sebab sel-sel telur cacing dapat masuk ke dalam tubuh melalui tangan yang kotor. Anak juga harus dibiasakan agar menggunakan sandal atau sepatu setiap kali keluar rumah di mana sel-sel telur cacing hidup di tanah.

Asupan zat besi ke dalam tubuh juga perlu mendapat perhatian. Zat besi bisa bersumber dari makanan bergizi seperti daging merah terutama hati, juga dari ikan, ayam, sayur-sayuran seperti bayam, daun katuk, kacang merah. Kalau memang sudah terkena anemia, maka konsumsi obat yang mengandung zat besi amat diperlukan. Jadi, menghindari anemia sebenarnya sederhana saja yakni menerapkan pola hidup bersih dan pola makan sehat. Ini tentunya tidak susah, sebab banyak sekali sumber-sumber makanan bergizi yang tidak mahal. Iya kan?

Meningkatkan Kualitas SDM dengan Pemberantasan Anemia

Dari fakta akademis dan kesehatan, anemia berdampak pada kualitas kemampuan berpikir dan kecerdasan anak yang sedang tumbuh. Ini karena penderita anemia memiliki kadar Hb di bawah normal yang berakibat terganggunya fungsi tubuh termasuk otak, akibat berkurangnya pasokan oksigen ke seluruh sel tubuh.

Dengan asumsi seperti itu maka efek jangka panjang akan sangat terlihat pada kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia ke depannya. Sebab, bibit-bibit SDM berkualitas tentunya bermula dari anak-anak pada usia sekolah dasar. Bila mereka telah baik gizinya dan terhindar dari anemia, maka kemungkinan mereka menjadi orang-orang pintar cukup terbuka lebar. Oleh karenanya, pemberantasan anemia pada anak-anak usia SD harus menjadi program pemerintah yang berkesinambungan. Alasannya, anak-anak SD merupakan usia dini dalam jenjang sekolah. Tentunya akan lebih baik lagi bila program tersebut dilakukan berkelanjutan pada tingkat SMP dan SMA.

Bahwa pemberantasan anemia justru harus dilakukan sejak usia dini, dalam hal ini dilakukan di SD. Ada Beberapa alasan diantaranya; Pertama, perhatian pemerintah terhadap segmen anak usia SD masih sangat minimal. Memang sudah ada program balita, namun segmen untuk usia SD luput dari perhatian. Kedua, anak-anak usia SD sedang membutuhkan norma-norma hidup sehat. Jadi, kalau diberikan pada anak-anak SD, maka keseluruhan masa sekolah mereka yang enam tahun telah diberikan landasan tentang prilaku hidup sehat. Kalau hal ini  terlambat mendeteksi, maka anemia yang diderita seorang anak SD akan terbawa terus sampai usia dewasa. Telah banyak dijumpai pada  ibu hamil yang menderita anemia. Ini apa artinya? Tidak lain adalah dampak negatif dari tidak tersosialisasinya masalah anemia sejak usia SD hingga ia duduk di bangku SMA.

Kebutuhan Harian Fe + (Zat Besi)
Bayi : 3-5 mg/hari
Anak-anak : 1,5 mg/hari
Remaja laki-laki : 1,4 mg/hari
Remaja perempuan : 1,4 mg/hari
Dewasa laki-laki : 1 mg/hari
Dewasa perempuan : 1,4 mg/hari
Ibu Hamil : 5-6 mg/hari

Semoga bermanfaat. Wallohu’alam bishowab

Diolah dari berbagai sumber

1 Tanggapan sejauh ini »

  1. 1

    vietha2008 berkata,

    Kalau mau dijadikan sebagai judul skripsi, cara mengukur prestasi – terutama prestasi belajar- anak gimana sih? Aku bingung….
    Salam kenal ya…


RSS Komentar

Ungkapkan pendapat Anda

Anda harus Teridentifikasi untuk menuliskan komentar.